Dalam
sebuah pesta ulang tahun anak komunis yang kaya raya di rumahnya, ia sengaja
mengumpulkan anak-anak di sekitarnya dan ingin merusak pola pikir mereka agar
tidak mengenal Tuhan. Salah satu anak seorang kiai terkenal diundang juga.
Setelah anak-anak kumpul, sang komunis berkata:
"Anak-anak sekalian, Om
mau tanya, 'Apakah Tuhan itu ada?' Ayo jawab siapa yang bisa menjawab Om kasih
uang 500 ribu."
"Tuhan itu ada Om," teriak salah seorang anak yang
mengharapkan hadiah uang.
"Kalau ada, coba kamu minta uang sama Tuhan,"
ujar sang komunis menguji jawaban anak itu. Namun sang anak malah bingung dan
diam.
"Kenapa diam? pasti Tuhan tidak memberi kamu uang kan? Nah, coba
kalau kamu minta uang sama Om."
"Om, minta uangnya dong," ujar anak
tadi.
Lalu sang komunis itu segera memberikan selembar uang 100-an
ribu.
"Nah, jadi Tuhan itu tidak ada, karena tidak dapat memberi kalian
uang. Setuju enggak."
"Setuju...!!" Teriak anak-anak itu lalu mereka
minta uang.
Sang komunis segera memberikan
uang-uangnya.
Tiba-tiba terdengar jeritan, semua yang hadir menuju tempat
tersebut. Ternyata anjing kesayangan sang komunis itu sedang sekarat akibat
keracunan makanan. Sang komunis sangat sedih dan menangis.
"Maaf Om,
bisakah Om menghidupkan anjing kesayangan Om itu?" tanya anak seorang kiai
makrifat.
Sang komunis itu hanya terdiam sambil terus menangis. Lalu anak
sang kiai itu berdoa dengan suara kencang.
"Ya Tuhan, tolonglah Om ini.
Dia kebingungan karena anjingnya Kau buat sekarat. Ya Tuhan hidupkanlah anjing
ini... karena aku yakin Tuhan itu ada."
Usai sang anak berdoa, dengan
izin Tuhan, anjing yang sekarat itu mulai membaik. Semua yang hadir tersentak
kaget. Sang komunis tersenyum senang.
"Ini nak, uang satu juta buat kamu.
Karena kamu sudah menolong anjing Om," ujar sang komunis sambil memberikan
uangnya.
"Tidak Om, terima kasih. Ternyata Tuhan itu memang ada, kan Om?"
Kata sang anak itu lalu pergi pulang. Diikuti anak-anak yang lain sambil
melempar uang 100 ribu yang dipegangnya.
Adu Kesombongan Tiga orang
tua sedang berkumpul di sebuah rumah seorang kiai. Kebetulan ketiga orang ini
termasuk yang sukses secara materi, mereka berbincang-bincang dengan
seru.
Orang tua pertama, berkata, "Alhamdulillah, Allah telah memberikan
aku rezeki yang berlimpah ruah. Hidupku sangat bahagia, punya 5 rumah mewah,
kendaraan mewah 8 buah dan 15 perusahaan yang dikelola
anak-anakku."
Orang tua kedua, "Saya juga sangat bersyukur, lima anak
saya bergelar doktor. Mereka menjadi rebutan para pengusaha terkenal, gaji
mereka di atas 30 juta. Saya sebagai orang tuanya hidup sangat
bahagia."
Orang tua ketiga, "Alhamdulillah, saya ini punya istri empat
dan 8 anak. Semua anak saya sudah mapan, 4 orang menjadi asisten menteri, 4
orang menjadi direktur di perusahaan asing. Mereka semuanya sangat baik, jadi
saya bisa bermain ke mana saja dengan fasilitas anak-anak."
Dan pak kiai
pun ikut berkata, "Wah, Alhamdulillah semua yang saya dengar dari bapak-bapak
sangat hebat. Kalau saya jujur saja, di dunia ini belum ada yang bisa
dibanggakan. Ibadah saya masih bolong-bolong, puasa suka tidak penuh, amal
sangat sedikit. Bagaimana saya bisa hidup enak seperti bapak-bapak ini?
Mudah-mudahan, saya bisa ikut menyombongkan diri kepada bapak-bapak di akhirat
nanti. Soalnya saya baru bisa melihat sukses atau tidak hidup saya dan miskin
atau kaya, baru nanti di akhirat kelak. Jadi saya tidak bisa sombong
sekarang."
Ketiga orang tua itu tersenyum kecut penuh malu.
[dari guyon orang-orang makrifat, wibi ar]
Sabtu, 29 Juni 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar